Sabtu, 28 Mei 2016

Financial Legend Dream

Kencan Uang
(Part 1)

Halo semua, setelah lama tidak aktif dalam dunia tulis menulis. Semoga pembaca selalu diberikan kesehatan dan keberkahan. Ingin sedikit bercerita, setelah semalam melakukan ritual nonton sama suami, kami memilih film Money Monster, saya malah bukannya terpikir untuk membahasnya. Tapi perjalanan dramatis sepanjang jalan di setiap outlet Plaza Senayan.  (Money Monster insyaAllah akan saya bahas dalam tulisan setelah ini, hehe. Karena ini lebih penting.  Why?




Oke, karena dimana mana dihiasi SALE!!!, Diskon, Diskon 50%, Diskon50% + 20%. What? Diskon tambahan menggunakan kartu kredit bank A, debit bank B, diskon poin dan yang lain lain. Atau diskon makanan beli donat,cupcakes, tea, coffee, hingga mendoan. Dan herannya selalu di serbu ramai pengunjung.  Bagi pandangan teman saya, seorang ekonom muda, konsumtif adalah denyut nadi perekonomian bangsa. Oke, boleh jadi benar, tapi tidak selalu benar, konsumtif yang benar akan lebih pas ketika tau situasi. Yang menjadi masalah adalah, siapakah “sang konsumtif” ini??? Yang berkecukupan atau yang pas pasan??? Atau malah yang berkekurangan??? Hehe…. Mari kita bahas satu satu.

1.  Diskon

Diskon diskon diskon… Demam diskon sudah biasa memang menjelang lebaran di Indonesia ini. Tapi jangan harap harga yang kalian dapatkan adalah harga selalu pantas. Karena apa? HPP (harga pokok produksi) dari tiap produk itu pun masih sangat murah dibanding harga jualnya. Masa? Ya, saya pun melakukannya, memproduksi barang tapi tak setinggi margin barang barang bermerk di outlet mall. Hehe.  

Terbukti ketika saya mengunjungi salah satu merk sangat terkenal, saya menanyakan harga tas dan bahannya. Berapa harganya? Dari segi model sangat istimewa untuk selera saya, bahannya? Not really good, kulit imitasi dengan sentuhan kuningan yang dengan sedikit cacat di ujung nya, diskon dari harga 3,6 juta menjadi 1,2jt. Apa? 1,2 juta untuk bahan kulit imitasi yang tak mulus. Saya jamin, tidak akan menunggu satu tahun, kulit dari tas ini akan mengelupas karena sebagian besar barang diskon adalah stock lama yang telah lama disimpan di gudang.

Tapi herannya, beberapa orang dengan suka cita membelanjakannya. Meskipun saya yakin, setelah 
membelinya sebagian dari mereka tersadar telah melakukan kesalahan. Dan ketika musim diskon yang lain datang, mereka akan melakukan kesalahan yang sama. Lalu apa masalahnya? Masalahnya adalah di perilaku belanja masyarakat kita. Kog bisa? Karena banyak diantara kita belanja bukan karena butuh, tapi suka dan godaan diskon. Ditambah kartu kredit dimana mana. Trust me, saya sudah merasakannya, susahnya melunasi hutang kartu kredit yang menumpuk dan akhirnya gaji habis hanya untuk melunasi hutang kartu kredit dengan bunga yang sangat tinggi.

2. Kartu Kredit = Hutang = Beban???

Tidak selalu kartu kredit itu buruk lho Citra. Oke, memang betul, dan saya pun juga terkadang membelikannya untuk hal yang produktif. Beli barang modal, kulakan dll. Tapi apakah semua orang memiliki logika yang sama?

Jika teman-teman pernah menonton film  atau membaca buku Confession of Shopaholic karangan Shopie Kinsela. Maka ingatan kita akan terbawa pada Rebbeca Bloomwood, jurnalis yang terjebak dengan hutang kartu kredit yang menumpuk. Becky, sebutan bagi tokoh penting disini terus menerus berbelanja dengan kartu kreditnya meskipun dia dalam kondisi yang serba mepet. Berbelanja barang-barang bermerk sudah menjadi kebutuhannya. Sangat mengerikan bukan? Trust me!!! Saya pernah diposisi yang sama dan hingga detik ini masih mencoba menahan diri untuk fokus melunasi hutang konsumtif saya. Termasuk kendaraan, tagihan tagihan kecil hingga rumah, haha. Pusing banget ya, tapi percaya this in not the end of the world, we just need solution. Haha… Apakah ada orang seperti Becky diluar sana? Selalu ada, dan beberapa kali saya menemuinya.  Bahkan terkadang jiwa muda pembelanja saya pun berkata “Beli Cit, kapan lagi nemu yang cocok. Bisa dicicil lagi.

Kartu Kredit memberikan kita kemudahan, dan membuat pikiran psikologis kita menjadi selalu berpikir bahwa kita masih ada uang darurat.  Helo!!! Kartu Kredit bukan uang darurat, itu utang darurat.


3. Think Twice Before You Buy

Anda punya mimpi ingin memiliki uang 1 M tahun depan??? Jangan harap bisa berada di titik itu apabila pengeluaran anda lebih besar dari pendapatan anda. Gaji 3 juta, cicilan motor 1 juta, cicilan HP 1 juta, hidup 1 juta, bayarin pacar jalan 1 juta. Minus 1 juta!!! Di bayarin pake gesek, hehe. Alhasil, pas akhir tahun sadar, lho kok hutang numpuk… Hutang di temen, hutang di kantor, utang di warteg langganan, utang di took kelontong depan kosan, daaaaannnn  dimana mana utang.  Alamaaakkk…

Jadi, sebelum teman teman sekalian semangat untuk berbelanja, coba deh dipikir betul betul, beneran butuh gak sih gue sama yang namanya clutch ini, butuh gak sih sama high heels ini, beneran butuh gak sih gue tiap hari makan di mall, kenapa gak bawa dari rumah aja, kenapa gak ikut catering di tempat Citra aja, (lho malah promosi).  Berpikirlah dua kali, kalau tidak bisa cukup dua kali, berkali kali juga tidak apa apa, yang paling penting lagi, coba deh tiap awal bulan gajian bulan ini ada kebutuhan wajib apa saja, nah itu yang wajib dibelanjakan dulu, jangan yang lain lain.

4. Belajar dari Becky

Becky berbelanja, jalan dan mencari hiburan karena frustasi, Hutang menumpuk membuat dia makin frustasi, belanja lagi. Dan parahnya apa? Prosesi ini sama sekali tidak membuat Becky mengembalikan mood-nya.  Dalam benak saya, bisa ya orang seperti dia, susah sekali di nasehati oleh Suze (teman baik Becky) untuk kembali menyelesaikan hutangnya dan stop kebiasannya konsumtifnya. Bahkan video-video motivasi keuangan tak mempan untuk dia. Dan akhirnya, Becky benar benar berada dalam masa paling kelam, dikejar-kejar debtcollector hingga di kantor dan ketika dia di televisi nasional sebagai financial journalist yang sedang naik daun.

Lalu apa yang dia lakukan? Dia akhirnya berusaha merubah gaya hidupnya, mengobati kecanduan berbelanjanya, dan mencatat setiap pengeluarannya dalam satu hari. Tidak dapat dipercaya, dalam satu hari satu orang yang bekerja di kota sekelas London dan New York sangatlah besar jika di total. Saya yakin, bagi orang Jakarta pun sama. Akan banyak pengeluaran untuk makan siang, cemilan, pulsa, kopi, atau sekedar nongkrong sama teman di sevel. Hehe. Sudahkah kita mencatat pengeluaran kita dalam satu hari? Jangan jangan sama seperti becky.
Tahapan selanjutnya apabila sudah mampu mengendalikan masa “kegelapan kita” adalah keep focus untuk selesaikan hutang, bukan membelanjakan sisa pendapatan kita untuk cicilan yang lain ya. Keep focus selesaikan hutang. Jika sudah mulai pandai berhemat cermat nan bersaja jangan langsung menggebu-menggebu untuk investasi, utamakan dulu bayar hutang.

5. Kencan Keuangan Pribadi



First Step, berikanlah diri anda satu hari atau kapan pun anda butuhkan untuk membuat kencan keuangan pribadi. Lakukan Financial Check Up. Check apakah asset anda jauh lebih besar dibandingkan liabilities, (Aset dikurangi beban). Jika ternyata beban lebih tinggi, mari rubah paradigm kita, hehe. Jika anda tidak ada pendapatan, ya sesegera mungkinlah bekerja. Ingat hukum jangan gengsi kalau sudah kepepet ya. Wajib itu.

Second Step, awal bulan ploting kebutuhan anda, dan bikinlah amplop amplop sesuai kebutuhan anda. Atau dirasa kurang modern, ya bolehlah dipisahkan di rekening berbeda, tetapi mohon diingat ya, konsekuensinya adalah adanya biaya administrasi per bulan lho untuk tabungan di bank. Hehe… Dalam memploting kebutuhan ini, wajib diingat untuk mendahulukan kewajiban. Apa itu? Zakat bagi seorang muslim, atau persepuluhan bagi yang lain. Intinya Pay God First. Lalu berurut ke kewajiban yang lain, seperti hutang dan lain lain.  Jika anda telah berumah tangga, sampaikan ke pasangan, kalau anda sedang dalam masa “penyembuhan” keuangan akut stadium 3, hehe. Kalau 4 terlalu sadis kayaknya ya.

Third Step, lalu buatlah diary keuangan anda tiap hari. Tulislah, sesulit apapun itu hihi. Ini bukan berarti pelit, tapi membantu anda ketika membuat cash flow bulanan, tidak akan terkaget-kaget kok uang aku udah abis aja sih. Kemana perginya??? Oalah ternyata untuk beli keripik tiap hari, hehe.

And the last, tuliskan cash flow bulanan dan kajilah. Kalau kata orang muslim, wajiblah kita berhenti sejenak untuk bermusahabah. Hehe. 

Semoga tulisan ini bisa menjadi motivasi kita untuk lebih bijak membelanjakan uang dan hutang ya. Ditulis bukan untuk menggurui, tetapi sebagai bahan sharing yang membangun. Kritik dan saran sangat saya apresiasi. Semoga kita sama sama bisa mencapai Financial Freedom, atau yang paling penting sekarang. Menuju Indonesia Bebas Hutang 2017!!!

Bye bye.. Selamat berjumpa ditulisan yang lain. Keep Focus and Pay God First!!!

With Love,


HCK
















Kamis, 09 Mei 2013

The Power Of Niat



Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang.


Coretan ini saya tuliskan disaat hati sibuk dengan dunia dan merasa di usia saya yang menginjak 24 tahun ini masihlah belum cukup bekal saya menuju mati dan akhirat. Sampai seorang family meminjamkan sebuah buku yang memang dari perawakannya tidak begitu tebal. Akan tetapi, dari judulnya saya langsung tertarik. “The Power of Niat” Mengungkapkan Kedasyatan Niat. Membuat saya bertanya tanya, sebenarnya apa yang ada didalam buku ini.

Bisa dibilang, bukan juga buku yang popular seperti novel-novel motivasi atau buku agama yang lebih popular lainnya. Lalu mulailah saya membaca halaman dan halaman buku ini. Subhanallah, hanya dengan membacanya saja mampu membuat saya berpikir dua kali untuk sebuah niat, sesuatu yang sepele kesannya, tetapi ternyata sangat substansial. Buku karangan Muhammad Yusuf Alkaf ini mampu memberikan ulasan singkat, namun cerdas dan talk to point menyentuh qalbu. Membuat kita terpekur akan esensi niat meskipun dalam bukunya yang singkat. Beliau sendiri banyak terinspirasi dari sebuah kitab berjudul Kitabun Niyyat karangan Habib Muhammad bin Alwi al-Idrus (Habib Sa’ad) yang memang telah menelorkan buku-buku yang menarik dan penulisan yang unit.

Atas dasar itulah saya berniat menuliskan ulasan saya tentang isi buku ini yang sebenarnya hanyalah intisari dari buku tersebut diatas. Agar dapat dibaca dan bermanfaat untuk saudara-saudari muslimin dan muslimat serta pembaca dimanapun berada. InsyaAllah.

Oleh karenanya, kebenaran yang tertulis di dalam ulasan ini adalah buah karya dari pengarang dan beberapa ulama yang kitabnya dijadikan rujukan oleh beliau. Jikalau ada kejanggalan dari ulasan ini,baik dari segi ini,penulisan dan pemilihan bahasa, maka itu adalah murni dari kelalaian saya. Dan penulis dengan terbuka menerima kritik dan sarannya.

Apa itu niat?

“Niat seorang Mukmin lebih baik dari pekerjaan (badan)nya” (H.R. Thabrani (5942)

Qalbu(hati) merupakan bagian paling special dari tiap diri manusia. Iman yang merupakan ibadah paling utama hanya bisa dilakukan olehnya. Hati menjadi barometer kemuliaan seseorang di sisi Allah. Bukan harta atau rupa tetapi hatilah yang menentukan harga diri tiap manusia.

Jika hati baik, maka badannya menjadi baik, dan sebaliknya apabila hatinya buruk, maka otomatis buruklah pula badannya. Jadi bukanlah hal yang aneh jika niat menjadi amal yang special karena timbul dari yang special pula. Hal yang hanya dapat dilakukan oleh bagian tubuh bernama hati.

Bukan itu saja, niat adalah satu-satunya amal yang tidak memiliki resiko kerugian. Dia terlindung dari virus riya’ (melakukan ibadah dengan tujuan pamer) karena tidak ada yang mengetahui isi hati seseorang kecuali dirinya sendiri.

Keistimewaan yang lain adalah dari segi kemandiriannya, artinya meskipun tanpa disertai amalan yang dilakukan anggota badan, ia masih bermanfaat bagi pelaku niat tersebut. Sebaliknya, jika pekerjaan dari fisik selalu berasal dari niat, tanpa disertai niat, sebuah pekerjaan tidak akan bermanfaat bagi pelakunya.

Tahukah kita? Mengapa kelak di akhirat orang mukmin bisa hidup kekal di surga padahal hanya beribadah di hidupnya yang hanya sebentar. Begitu pula sebaliknya dengan orang kafir. Jawabannya adalah niat. Seorang mukmin berniat senantiasa beriman jika ia hidup sepanjang masa. Oleh karena itu, diberikanlah balasan surga selama-lamanya pula. Bagaimana dengan seorang kafir? Terntulah sudah jelas jawabannya jika tak ada taubatan dari dirinya.

Niat : Pedang Bermata Dua

Niat bisa menjadi pedang bermata dua. Jika digunakan secara benar dengan niat yang baik. Maka akan menjaga pemiliknya dari serangan musuh (salah satunya penyakit hati dan virus-virus hati lainnya). Tapi jika tak berhati hati, justru dapat melukai pemiliknya.

Dalam sebuah riwayat sedikit ceritakan tentang kisah kakak adik yang tinggal dalam satu rumah berlantai dua. Sang kakak kerap bermaksiat tinggal di rumah lantai satu. Dan adik yang gemar beribadah tinggal dirumah lantai dua.

Suatu hari,iblis datang menggoda sang adik yang gemar beribadah dan berkata: 
Betapa kasihan dirimu, kamu telah menghabiskan umurmu dan menyiksa badanmu dengan menahan hawa nafsu. Maka bebaskanlah dirimu sejenak dengan mengikuti hawa nafsumu.”

Mendengar bisikan iblis tersebut, sang adik tergoda dan berkata pada dirinya. 
" Sepertinya aku ingin turun ke tempat kakakku di lantai satu dan melakukan kenikmatan kenikmatan seperti yang ia lakukan. Lepas itu, aku akan bertaubat”

Di  lantai bawah, sang kakak tersadar dari mabuknya dan mendapatkan dirinya dalam keadaan mengenaskan dengan baju basah kuyup dan badan tergeletak di bawah. Ia berkata “Aku telah menyia-nyiakan umurku dalam jurang kemaksiatan, sedangkan adiku tengah menjalani kenikmatan dengan beribadah kepada Allah.”  Ia lalu bertaubat dan berniat baik dengan menaiki tangga menuju lantai kedua guna melakukan ibadah sebagaimana sang adik.

Dalam waktu bersamaan, sang adik yang menuju lantai satu guna melakukan maksiat terjatuh dan menimpa kakak yang berniat taubat,mereka terjatuh dari tangga dan keduanya meninggal. Maka sang adik yang gemar beribadah dikumpulkan dengan orang-orang maksiat atas dasar niat maksiatnya. Sementara kakak yang kerap bermaksiat dikumpulkan dengan orang-orang mukmin atas dasar niat ibadahnya. (Muhammad Ibn Abdullah al-Jurdani dalam Yusuf Alkaf, The Power Of  niat, hlm :20)

Dengan keistimewaan yang dimilikinya, ulama terdahulu memberi apresiasi yang tinggi terhadap niat, bahkan mengajarkan esensi niat kepada putra putrinya sebagaimana mengajarkan surat Al Fatihah.

Manajemen Niat

Pastilah timbul pertanyaan di rekan-rekan pembaca, apakah semua lintasan dalam hati yang dating silih berganti antara baik dan buruk dikatakan sebagai niat sehingga pemiliknya bisa menerima pahala atau dosa? Hal yang sama, juga saya lontarkan dalam hati ketika saya membaca buku ini.

Jawaban dari buku ini adalah tidak. Hal itu dikarenakan lintasan yang ada pada hati manusia beraneka ragam dan dapat diklasifikasikan dalam lima tingkatan yang berbeda, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Taqiyyud-Din as-Subki.

Pertama disebut al hajis, yang berarti lintasan lintasan perasaaan yang memasuki hati. Kedua adalah al-khatir yang bermakna lintasan dalam hati yang timbul adanya lintasan yang pertama. Ketiga adalag haditsun-nafsi yang berarti keragu-raguan yang timbul di dalam hati, apakah melakukan atau tidak. Keempat adalah al hammu, yang bberarti keputusan hati untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. Kelima adalah al-uzmu yang berarti keputusan hati dan kemauan kuat untuk melakukan pekerjaan itu.

Untuk kategori pertama, kedua dan ketiga tidak berakibat dosa bagi seseorang. Sedangkan untuk klasifikasi ke empat maka orang akan diberi pahala apabila itu baik dan untuk yang mempunyai niat buruk tetapi dia urung melakukannya, maka tidak dicatatkan sebagai dosa (menurut hadis riwayat Bukhari (6491) dan Muslim (355) ). Untuk pandangan yang terakhir ini, oleh sebagian ulama Al Muhaqqiqun, setiap manusia yang mempunyai niat yang baik maka  akan dicatat sebagai amal, sedangkan bagi yang buruk akan dicatat sebagai dosa meskipun dia tak melakukannya. (didasarkan hadis Abi Bakrah).

Lalu bagaimana agar kita selalu dalam naungan niat yang positif? Berinteraksi dengan hal-hal yang baik dan selalu berpikiran positif menjadikan kita menjadi makhluk yang selalu berniat mencapai ridlo Allah.

Yang Halal Tak Menjadikan Sesuatu yang Haram (Begitu juga sebaliknya)

Lalu apakah niat yang baik dapat menghalalkan cara yang buruk? Tentu saja tidak. Niat baik (shalihah) hanya akan bermanfaat bagi amal perbuatan yang baik pula.

Menyelam Sambil Minum Air

Kegiatan yang terkesan biasa dan mubah, bahkan bisa mendapatkan nilai esensi amal yang wajib. Bagaimana caranya, seperti duduk di masjid. Tentulah berbeda niat hanya untuk duduk duduk tanpa alasan dibandingkan dengan niatan yang jelas, dengan duduk di masjid dengan niatan iktikaf sambil mendengarkan orang-orang yang membaca Al Qur’an, menjaga badan dari hal hal tidak berguna, memanfaatkan waktu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, dan niat-niat positif lainnya. Ringkasnya,  seseorang yang hanya melakukan satu amal kebaikan disertai dengan banyak niat yang baik bersamaan, seperti menyelam sambil minum air, atau sekali dayung, dua tiga pula terlampaui.

Menjadikan Hal Biasa menjadi Istimewa

Makan, merupakan hal biasa yang kita lakukan setiap hari. Tapi sadarkah kita bahwa yang sekedar makan bisa menjadi istimewa apabila memiliki niatan yang istimewa. Makan tak hanya untuk mengentaskan rasa lapar, tapi juga dapat diniatkan dengan beberapa hal. Misalkan:
  1.        Berniat mensyukuri nikmat dari Allah
  2.     Berniat untuk semakin memperkuat badan demi beribadah kepada Allah,
  3.        Berniat mentaati perintah Allah (…Makan dan minumlah dari rejeki (yang diberikan) Allah... Q.S Al Baqarah  : 60)
  4.     Berniat menjaga kesehatan tubuh.

Begitu juga dengan kegiatan kegiatan kita sehari hari, dalam bekerja,bepergian, memandang, bersikap, bahkan dalam menggapai cita cita dan keinginan.

Tentang keingininan, dalam sebuah riwayat lain, diceritakan seorang bani israil yang melewati sebuah tumpukan pasir, pada waktu itu sedang dalam masa kekeringan dan paceklik pangan. Ia lalu berkata dalam hati “Seandainya tumpukan pasir ini adalah makanan, maka akan aku bagikan kepada orang-orang”
Lalu Allah menyampaikan wahyu kepada nabi yang diutus pada waktu itu agar berkata pada laki-laki tersebut “Sesungguhnya Allah telah menerima sedekahmu dan memuji niat baiknmu, Allah telah memberimu pahala dari pasir yang seandainya menjadi makanan dan engkau sedekahkan.”

Subhanallah… Lalu bagaimana niat baik yang dijalankan?
…dan Barangsiapa berniat untuk melakukan amal kebaikan lalu ia laksanakan, maka dicatat baginya sepuluh (pahala) kebaikan hingga 700 kali lipat… (cuplikan H.R Muslim (345) dalam Yusuf Alkaf,The Power of Niat hlm: 12)

Betapa mudahnya menjalankan syariah Islam,dengan niat yang baik, kita membentuk habbit kita untuk selalu baik. Dengan ilmu amaliyah bathiniyah, insyaAllah akan mampu menghindari penyakit hati dan mengobatinya. Hal ini agar berpatokan pada ilmu, amal, wara’, khauf pada Allah dan ikhlas hanya kepada-Nya demi Ridlo kekasih kita Allah SWT.

Kiranya demikian ulasan yang hanya sekelumit ini, ibarat tetesan air di lautan ilmu yang sangat luas. Semoga dapat menjadikan manfaat bagi siapapun yang membacanya. Sebab niat adalah sesuatu yang sangat luas, tak cukup hanya dituliskan dalam beberapa lembar halaman blog ini saja.

Oleh karenanya,mari kita niatkan setiap lembaran kegiatan kita untuk hal yang di niatkan kepada Allah, Rasul, para sahabat, para ulama, serta salafus shalih demi mencapai kemanfaatan umat.

Akhirnya, saya berdoa, semoga tujuan terpenting dalam penulisan ulasan ini dapat mendpatkan Ridlo Allah SWT dan bermanfaat bagi siapapun yang membacanya baik di dunia dan di akhirat kelak.Amin ya Rabb.


10 Mei 2013

Hapsari Citra Karina

Tweet : @hapsari_citra | email : hapsaricitra_karina@yahoo.com | hapsari.syakief@gmail.com

Rabu, 26 Desember 2012

Malioboro Rasa Jakarta

Lesehan Blok M Squre

"Malioboro" Rasa Jakarta



Melewati jalur pulang kantor dari Sudirman ke Kemang, saya sempatkan mampir dulu ke lesehan di depan blok M square. Cerita dari kawan, lesehannya cocoklah bagi yang pencinta kuliner dan rindu kampung halaman di Jawa. So, saya putuskan mampir kesana. Jam 9 malam masih ramai oleh orang lalu lalang belanja. 


Lesehan yang memang baru buka lapak jam 8 malam ini, terasa seperti di Malioboro. Semua menu cukup memanjakan mata dan bikin lapar. Saya putuskan memesan pecel dan daging empal.


Jangan salah, meskipun lesehan tetapi meminatnya tak cuma dari kalangan biasa. Penikmatnya bisa dari berbagai kalangan. Bahkan dari turis-turis asing yang memang sengaja menikmati nikmatnya "berlesehan".


Setelah menunggu, akhirnya saya mendapatkan tempat untuk duduk. Baru 5 menit duduk, datang rombongan sintren. Benar-benar "Malioboro" batin saya. Makan nasi pecel diiringi tembang lagu Jawa. Sedikit mengobati rindu akan kampung halaman.

Recommended lah ya untuk dicoba. :)

Senin, 17 Desember 2012

Abuba Steak 

Pertama kali tau steak ini dari kakak, yang emang hobi banget makan. Pertama kali maen ke Jakarta sampe rela disemepet-sempetin "mampir" ke tempat ini. Daaaannnn.... tempatnya sederhana banget.
Tapi sekarang Abuba Steak udah berubah jadi tempat makan yang cozy dan nyaman. Padahal dulunya dari "gubuk: gitu.
Soal rasa dijamin istimewa, dagingnya tebel, empuk, yang lokal pun empuk. Salmonnya juga enak. Overall.. enak semuaaaa,,, :p
Dagingnya empuk, tebel, gak capek deh ngirisnya. hee...
Nah tempatnya di cipete raya,tapi katanya udah banyak cabangnya. Recommended banget deh... TOP!!!



Minggu, 16 Desember 2012

Perbankan Syariah
dalam
Kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia


Pendahuluan

Di tengah krisis Eropa yang terus berlanjut, sistem keuangan syariah terbukti terus tumbuh positif. Dengan pangsa pasar yang masih 4%, peluang perbankan syariah untuk melanjutkan pertumbuhannya masih terbuka luas. Sistem keuangan syariah pada level global tetap tumbuh meski krisis membayangi. Business model keuangan syariah yang berorientasi pada sektor produktif menyebabkan daya tahan yang tinggi terhadap situasi krisis sekalipun. (Alamsyah,Halim dalam Infobank,Juni 2012 )
Dibalik perkembangan yang menggembirakan tersebut, ada kekhawatiran bahwa perkembangan yang pesat perbankan syariah tersebut merupakan rangkaian dari eforia reformasi dan dapat memicu adanya immature booming yang semu tanpa dilandasi kerangka kelembagaan dan pengaturan yang memadai dari aspek best practices.
Dalam rangka membangun industri perbankan syariah masa depan yang tangguh maka pengembangan perbankan syariah juga harus mengikuti langkah-langkah pembangunan kelembagaan dan kegiatan usaha sesuai dengan pilar-pilar pengembangan yang ditetapkan dalam Arsistektur Perbankan Indonesia (API).

Kebijakan Bank Indonesia Terhadap Pengembangan Perbankan Syariah
Pada saat ini perkembangan bank syariah di Indonesia relatif pesat. Dalam kurun waktu 11 tahun perkembangannya, total aset industri perbankan Syariah telah meningkat sebesar 81 kali lipat dari  Rp 1,79 triliun pada akhir tahun 2000, menjadi sekitar Rp145,5 triliun pada akhir tahun 2011.  Laju pertumbuhan aset 33 - 49% per tahun.  Posisi Terakhir Juni 2012: BUS+UUS =  TA Rp 155,4 Tr  / 4,0%  share dan BPRS = TA Rp4,1r  / 6,3% share. Posisi Indonesia dalam Pasar Keuangan Global dalam pertumbuhan industri selama 5 tahun terakhir lebih tinggi dari pertumbuhan industri keuangan syariah global (15%-20% p.a)
Dalam konteks pengelolaan perekonomian makro, meluasnya penggunaan berbagai produk dan instrumen keuangan syariah akan dapat merekatkan hubungan antara sektor keuangan dengan sektor riil serta menciptakan harmonisasi di antara kedua sektor tersebut. Semakin meluasnya penggunaan produk dan instrumen syariah disamping akan mendukung kegiatan keuangan dan bisnis masyarakat juga akan mengurangi transaksi-transaksi yang bersifat spekulatif, sehingga mendukung stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan, yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian kestabilan harga jangka menengah-panjang.
Meskipun perbankan syariah telah menunjukkan tajinya dan terbukti tidak terimbas efek krisis Eropa. Masih saja ada beberapa hal yang masih harus dibenahi. Selama ini ada kecenderungan sektor keuangan syariah hanya fokus pada pembiayaan perdagangan jangka pendek. Oleh karena itu diperlukan penguatan ekonomi yang inklusif.
            Ekonomi yang inklusif dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap jasa keuangan syariah. Inclusivitas keuangan syariah dilakukan pada sektor perbankan syariah,pasar modal,asuransi mikro, kelembagaan syariah terutama Zakat dan Waqaf. Perbankan syariah juga secara umum terkendala pada minimnya instrumen pengelolaan likuiditas. Padahal ketersediaan dana ibarat darah dalam diri manusia.
Tantangan lain yang masih menjadi momok bagi perbankan  syariah itu sendiri adalah SDM. Terbatasnya sumber daya insani bahkan menyebabkan para pelaku perbankan saling membajak pekerja yang memiliki keahlian dalam bidang keuangan syariah. Saling mencomot antara bank yang satu dengan yang lain. Betapapun canggih dan lengkap peralatan, tetap unsur perbankan sangat penting dikuasai sumber daya insani yang mumpuni. Oleh karena itu asosiasi perlu memikirkan untuk menjawab tantangan ini secara lebih sistematis dan terukur serta terarah. Selain itu masih ada beberapa kendala dan tantangan, antara lain :
·         Bank syariah belum menjadi isu (kepentingan) nasional.
·         Market share bank syariah masih single digit.
·         Peraturan dan infrastruktur pengawasan yang belum sepenuhnya mengakomodasi kegiatan operasional bank syariah.
·         Keberadaan infrastruktur yang belum efisien.
·         Tingkat integrasi pasar keuangan syariah yang masih rendah.
·         Inovasi dan positioning produk masih rendah.
·         Pelayanan perbankan syariah yang belum efisien.
·         Masih terjadi mispersepsi masyarakat terhadap produk dan layanan perbankan syariah.
·         Belum tercapainya kesamaan persepsi antar stake-holders (a.l. DSN, BI, IAI dan pengelola bank syariah) mengenai implementasi prinsip syariah dalam kegiatan perbankan syariah.
Permasalahan diatas memerlukan solusi dan dukungan serta kerjasama dari berbagai pihak terkait. Tantangan ini sekaligus memberikan peluang untuk berkembang lebih pesat bagi perbankan syariah di Indonesia, jika tantangan-tantangan tersebut dapat diatasi dengan solusi yang efisien dan dalam waktu singkat. Oleh karena itu,bank Indonesia sebagai bank sentral yang mengatur dan mengawasi seluruh kegiatan perbankan di Indonesia, menaruh perhatian besar terhadap perkembangan bank syariah di Indonesia. Bank Indonesia memiliki direktorat khusus yang mengkaji masalah perkembangan dan isu-isu terkini dari perbankan syariah di Indonesia. Blue print perbankan syariah yang dibuat oleh bank Indonesia mengindikasikan tujuh pilar pengembangan dalam memajukan perbankan syariah di Indonesia.
Dari 7 pilar pengembangan menunjukan karakteristik sistem perbankan syariah yang  beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank, serta menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi, dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan. Dengan menyediakan beragam produk serta layanan jasa perbankan yang beragam dengan skema keuangan yang lebih bervariatif, perbankan syariah menjadi alternatif sistem perbankan yang kredibel dan dapat dinimati oleh seluruh golongan masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.
Sebagai langkah konkrit upaya pengembangan perbankan syariah di Indonesia, maka Bank Indonesia telah merumuskan sebuah Strategi Pengembangan Pasar Perbankan Syariah, sebagai strategi komprehensif pengembangan pasar yg meliputi aspek-aspek strategis, yaitu: Penetapan visi 2010 sebagai industri perbankan syariah terkemuka di ASEAN, pembentukan citra baru perbankan syariah nasional yang bersifat inklusif dan universal, pemetaan pasar secara lebih akurat, pengembangan produk yang lebih beragam, peningkatan layanan, serta strategi komunikasi baru yang memposisikan perbankan syariah lebih dari sekedar bank. Selanjutnya berbagai program konkrit telah dan akan dilakukan sebagai tahap implementasi dari grand strategy pengembangan pasar keuangan perbankan syariah, antara lain adalah sebagai berikut:
Pertama, menerapkan visi baru pengembangan perbankan syariah pada fase I tahun 2008 membangun pemahaman perbankan syariah sebagai Beyond Banking, dengan pencapaian target asset sebesar Rp.50 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 40%, fase II tahun 2009 menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah paling atraktif di ASEAN, dengan pencapaian target asset sebesar Rp.87 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 75%. Fase III  tahun 2010 menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah terkemuka di ASEAN, dengan pencapaian target asset sebesar Rp.124 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 81%.
Kedua, program pencitraan baru perbankan syariah yang meliputi aspek positioning, differentiation, dan branding. Positioning baru bank syariah sebagai perbankan yang saling menguntungkan kedua belah pihak, aspek diferensiasi dengan keunggulan kompetitif dengan produk dan skema yang beragam, transparans, kompeten dalam keuangan dan beretika, teknologi informasi yang selalu up-date dan user friendly, serta adanya ahli investasi keuangan syariah yang memadai. Sedangkan pada aspek branding adalah “bank syariah lebih dari sekedar bank atau beyond banking”.
Bank Indonesia meluncurkan logo iB pada 2 Juli 2007 sebagai logo industri perbankan syariah di Indonesia. Logo ini diharapkan dapat menjadi identitas bagi industri perbankan syariah di Indonesia. Tujuan-tujuan lain dari dibentuknya logo ini, yakni memudahkan masyarakat untuk mengenali layanan syariah di seluruh Indonesia, memberi keyakinan dan rasa nyaman  bagi masyarakat, karena dengan adanya logo berarti produk dan layanan bank sudah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah (adil, seimbang, menjaga kebaikan sosial, beretika), memberi nilai tambah bagi bank. Dengan memasang logo, berarti telah menjadi bagian dari sistem perbankan syariah Indonesia  yang kokoh, teratur, terpadu dan  terus berkembang.
Ketiga, program pemetaan baru secara lebih akurat terhadap potensi pasar perbankan syariah yang secara umum mengarahkan pelayanan jasa bank syariah sebagai layanan universal atau bank bagi semua lapisan masyarakat dan semua segmen sesuai dengan strategi masing-masing bank syariah.
Keempat, program pengembangan produk yang diarahkan kepada variasi produk yang beragam yang didukung oleh keunikan value yang ditawarkan (saling menguntungkan) dan  dukungan jaringan kantor yang luas dan penggunaan standar nama produk yang mudah dipahami.
Kelima, program peningkatan kualitas layanan yang didukung oleh SDM yang kompeten dan penyediaan teknologi informasi yang mampu memenuhi kebutuhan dan kepuasan nasabah serta mampu mengkomunikasikan produk dan jasa bank syariah kepada nasabah secara benar dan jelas, dengan tetap memenuhi prinsip syariah; dan
Keenam, program sosialisasi dan edukasi masyarakat secara lebih luas dan efisien melalui berbagai sarana komunikasi langsung, maupun tidak langsung (media cetak, elektronik, online/web-site), yang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang kemanfaatan produk serta jasa perbankan syariah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Sistem perbankan syariah yang ingin diwujudkan oleh Bank Indonesia adalah perbankan syariah yang modern, yang bersifat universal, terbuka bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Sebuah sistem perbankan yang menghadirkan bentuk-bentuk aplikatif dari konsep ekonomi syariah yang dirumuskan secara bijaksana, dalam konteks kekinian permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia, dan dengan tetap memperhatikan kondisi sosio-kultural di dalam mana bangsa ini menuliskan perjalanan sejarahnya. Hanya dengan cara demikian, maka upaya pengembangan sistem perbankan syariah akan senantiasa dilihat dan diterima oleh segenap masyarakat Indonesia sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan negeri.


Tinjauan Perbankan Syariah Pasca Cetak Biru
Meskipun secara sistem, perbankan syariah pasca cetak biru telah menunjukkan kinerja keuangan yang lebih baik, sistem perbankan syariah sementara ini masih memberikan tingkat return yang lebih rendah kepada nasabah dibandingkan dengan yang dapat diberikan oleh perbankan konvensional. Hal ini tentunya perlu dicermati terutama dalam menghadapi era persaingan global dimana pesaing usaha bukan hanya datang dari industri sejenis, akan tetapi juga dari industri lainnya yang memiliki kemampuan untuk memberikan jasa sejenis.
Pengembangan sistem perbankan syariah dapat pula menerapkan strategi ekspansi ‘economies of scale’ dan ‘economies of scope’. Penerapan strategi ‘economies of scale’ dilakukan secara horisontal dengan meningkatkan cakupan pasar melalui aliansi strategis dengan mitra usaha domestik maupun internasional. Penerapan strategi economies of scope dapat dilakukan dengan menambah kelengkapan instrumen transaksi syariah.
Porsi skema pembiayaan bagi hasil dalam transaksi bank syariah perlu ditingkatkan
Salah satu manfaat yang dapat dirasakan oleh sistem perekonomian dalam skala yang lebih luas adalah hadirnya konsep bagi hasil dalam transaksi ekonomi. Namun demikian, sampai saat ini porsi pembiayaan bagi hasil masih sangat rendah.
Selain itu, untuk mencapai hal tersebut, perbankan syariah nasional harus mampu beroperasi sesuai dengan norma/standar keuangan syariah internasional untuk bersaing dalam Pasar Keuangan Syariah Internasional (IIFM). Penerapan Good Corporate Governance dalam perbankan syariah juga sangat diperlukan dalam persaingannya di pasar global. Terutama dalam menyikapi pangsa pasar yang rasional. Dengan demikian perbankan syariah dapat benar benar menjadi implementasi Islam yang kaffah dan merupakan rahmatan lil alamin. InsyaAllah.

Daftar Pustaka

http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Perbankan+Syariah//
Ilyas,Nasirwan; Arah Kebijakan Pengembangan Perbankan Indonesia,Departemen Perbankan Syariah BI;2012
Rating Bank, Infobank, No 399, Juni 2012.
Suplemen Infobank, Seminar Keuangan Syariah,Juni 2012
Yuliandri (2009) dalam http://woow.blogspot.com/2009/10/perbankan-syariah-pasca-api.html//